Senin, 05 Desember 2011

Pemahaman Tingkah Laku by Nova Afriyanti

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Instruksional
Dengan mempelajari Bab I pada buku ini diharapkan mahasiswa dapat :
1.   Menjelaskan arti penting pemahaman tingkah laku,
2. Memahami pengertian dan bidang kajian kepribadian untuk memahami tingkah laku,
3. Menjelaskan teori kepribadian yang ideal untuk memahami tingkah laku ditinjau dari dimensi, fungsi, dan kriterianya,
4. Menjelaskan manfaat pemahaman tingkah laku bagi profesi bimbingan dan konseling.

B. Arti Penting Pemahaman Tingkah Laku
Upaya untuk mendapatkan pemahaman atas tingkah laku manusia tidak sekedar upaya untuk melampiaskan rasa ingin tahu manusia saja, akan tetapi bahkan menjadi suatu kewajiban bagi manusia itu sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas kehidupannya di masa-masa selanjutnya.
Menyadari begitu pentingnya pemahaman tingkah laku manusia dalam berbagai dimensi, baik dalam dimensi luas yang berkaitan dengan kehidupan manusia secara luas maupun dalam dimensi yang lebih kecil khususnya dalam profesi bimbingan dan konseling, maka mata kuliah pemahaman tingkah laku menjadi mata kuliah wajib yang termasuk mata kuliah keahlian berkarya (MKB ) bagi mahasiswa bimbingan dan konseling fakultas ilmu pendidikan.

C.  Psikologi kepribadian sebagai bidang kajian dalam pemahaman tingkah laku
Kata kepribadian berasal dari kata personality ( inggris ) yang berasal dari kata pesona ( latin ) yang berarti topeng. Topeng merupakan tutup muka ya g sering digunkan oleh pemain-pemain panggung. Maksud dari penggunaan istilah ini adalah untuk menggambarkan prilaku, watak ata pribadi seseorang yang dalam manifestasinya kehidupan sehari-haritidak selalu membawakan dirinya sebagaimana adanya, melainkan selalu menggunakan tutup muka dengan tujuan untuk menutupi kelemahannya.
Psikologi kepribadian menurut Koswara ( 1986 : 3 ) merupakan salah satu bidang dalam psikologi yang mempelajari prilaku manusia secara total dan menyeluruh. Kepribadian menurut Atkinson dkk. ( 1998 :202 ) merupakan segala bentuk pola pikiran, emosi, dan prilaku yang berbeda dan merupakan karakteristik yang menentukan gaya personal individu dan mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan.Whiterington ( dalam Rumini, 1988 : 140 ) menggambarkan kepribadian sebagai keseluruhan tingkah laku seseorang yang diintergrasikan, sebagaimana yang tampak pada orang lain. Kepribadian bukan hanya yang melekat pada diri seseorang, tetapi lebih merupakan hasil dari sebuah pertumbuhan yang lama dalam suatu lingkungan kultural. Selanjutnya Whiterington  ( dalam Rumini, 1988 : 140) membedakan cara pemakaian perkataan kepribadian sebagai berikut :
1.   Secara populer kepribadian adalah kesan yang ditimbulkan olh sifat-sifat lahiriah seseorang, misalnya cara berpakaian, sifat jasmaniah, daya pikat, dll.
2. Para sarjana psikologi lebih memperhatikan arti yang lebih dalam dan luas, yang meliputi pula sifat-sifat yang khas, yang unik, yang selamanya ada pada orang yang bersangkutan, tetapi tidak selalu tampak pada observasi sepintas lalu yang dilakukan pertama kali.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi kepribadian adalah salah satu bidang dalam psikologi yang mempelajari prilaku mausia dalam bentuk karakteristik personal individu yang khas  dan terintegrasi baik berupan pola pikiran, emosi, dan prilaku, bersifat berbeda dari individu dengan individu lain serta mempengaruhi interaksi individu dengan lingkungannya.
Penggunaan  konsep-konsep yang terbuka bagi pengujian empiris dan penggunaan metode-metode yang dapat dipercaya dan memiliki ketepatan dalam kajian psikologi kepribadian dimaksudkan agar psikologi kepribadian dapat mencapai sasaran atau tepat dalam memahami tingkah laku manusia. Informasi mengenai tingkah laku manusia sebenarnya dapat pula diperoleh dari karya-karya sastra, sejarah, dan agamaa akan tetapi terbukanya kesempatan bagi pengujian empiris pada sumber-sumber tersebut belum dapat ditentukan dengan pasti.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi kepribadian dlam kajiannya berusaha menjelaskan perilaku manusia dalam bentuk :
1.   Penggambaran dan penjelasan perbedaan individual dengan  berbagai cara,
2. Sintesis berbagai proses yang mempengaruhi interaksi individu dengan ligkungannya ke dala kesatuan terintegrasi manusia secara total.

D. Kriteria-kriteria teori kepribadian untuk memahami tingkah laku
Menurut Hall dan Lindzey ( 1993 : 5-6 ) sebuah teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan sekitar apa, bagaimana, dan mengapa tentang tingkah laku manusia. Untuk itu menurut Pervin ( dalam Hall dan Lendzey : 5-6 ) sebuah teori kepribadian yang lengkap biasanya memiliki dimensi-dimensi sebagai berikut :
1.   Pembahasn tentang struktur,
2. Proses,
3. Pertumbuhan dan perkembangan,
4. Psikopatologi,
5. Perubahan tingkah laku.

Koswara ( 1991 : 5-6 ) menjelaskan bahwa suatu teori kepribadian memiliki fungsi yang sama. Ditinjau dari fungsinya suatu teori kepribadian hendaknya memiliki fungsi :
a. Fungsi deskriptif,
b. Fungsi peramalan ( Prediktif ),

Ditinjau dari kriteria-kriterianya, menurut  Koswara ( 1991 : 5-6 ) suatu teori kepribadian yang lengkap diharapkan memiliki 6 kriteria, yaitu :
1.   Variabilitas,
2. Nilai heuristik,
3. Konsistensi internal,
4. Kehematan,
5. Keluasan ( comprehensiveness ),
6. Signifikansi Fungsi.

E. Manfaaat dan pemahaman tingkah laku bagi profesi bimbingan dan konseling
Dalam profesi bimbingan dan konseling khususnya di sekolah, pemahaman tingkah laku dapat memberi sumbangan dalam layanan profesi berupa :
1.   Kemudahan untuk mengenal sifat-sifat dari individu atau anak didik yang diberi bimbingan dan konseling sehingga pada akhirnya profesi dapat dengan mudah diberikan,
2. Pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap tingkah laku masing-masing anak didik yang dibimbing sehingga pada akhirnya guru atau petugas bimbingan dan konseling di sekolah dapat memberikan pembinaan yang lebih jauh dan mendalam terhadap bakat, Hobi, dan kegemaran anak didik,
3. Pengenalan sifat anak didik yang dibimbing secara mendalam sehingga skhirnya guru pembimbing dapat mencegah kemungkinan timbulnya frustasi bagi anak dan pada akhirnya pembelajaran yang berlangsung di sekolah dapat berjalan dengan baik dan lancar,
4. Diperolehnya pemahaman yang utuh terhadap pribadi anak sehingga guru pembimbing dapat dengan tepat memperlakukan dan menolong anak didik, utuk mencapai kedewasaan dan tanggung jawabnya  sendiri dengan baik,
5.  Pengenalan yang mendalam terhadap anak didik sehingga guru dapat menghindari diri dari kemungkinan timbulnya konflik dengan anak didik yang dapat menimbulkan hilangnya kewibawaan guru pembimbing di mata anak didiknya.


BAB II
ASUMSI TENTANG MANUSIA dan FAKTOR PENENTU KEPRIBADIAN MANUSIA

A. Tujuan Instruksional
Dengan mempelajari BAB II diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan tentang :
1.   Asumsi dasar tentang manusia,
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pribadi manusia.

B. Asumsi dasar tentang manusia
Pada dasarnya, setiapa orang termasuk didalamnya para ahli di bidang psikologi kepribadian, memiliki anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi dasar tertentu tentang manusia, Asumsi-asumsi ini diperoleh melalui hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial secara nyata dan akhirnya mempengaruhi persepsi dan tindakan individu terhadap sesamanya.
Setiap teori kepribadian, dibangun atas dasar asumsi-asumsi tentang manusia sehingga perbedaan antar teori kepribadian lebih disebabkan oleh perbedaan asumsi tentang manusia yang digunakan.
Beberapa asumsi dasar tentang manusia menurut Koswara ( 1991 : 26 ) antara lain :
1.   Kebebasan-ketidakbebasan,
2. Rasionalitas-irasionalitas,
3. Holisme-Elementalisme,
4. Konstitusionalisme-Enviromentalisme,
5. Beruabah-tak berubah,
6. Subjektivitas-objektifitas,
7.  Proaktif-reaktif,
8.  Homeostatis-heterostatis,
9. Dapat diketahui-tidak dapat diketahui.

C.  Faktor penentu pribadi manusia
Pribadi manusia menurut Sujanti dkk. ( 1999 :3-4 ) tumbuh dari kekuatan, yaitu :
1)   Kekuatan dari dalam,
2) Kekuatan dari luar.
Hurlock ( 1990 : 237 ) mengemukakan beberapa penentu kepribadian(determinants of Personality) yang mempunyai pengaruh terbesar pada inti pola kepribadian. Adapun komponen dari inti pola kepribadian meliputi 2,yaitu :
1.   Konsep diri,
2. Sifat.
Hurlock ( 1990 : 248-257) mengemukakan penentu-penentu kepribadian yang berpengaruh terhadaap inti pola kepribadian, beberapa hal diantaranya adalah :
a. Penngalaman awal,
b. Pengaruh buadaya,
c.  Ciri-ciri fisik,
d.  Kondisi fisik,
e.  Keberhasilan dan kegagalan,
f.  Penerimaan sosial,
g.  Pengaruh keluarga,
h.  Tingakat penyesuaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar