Senin, 05 Desember 2011

Filsafat Yunani Klasik By Nova Afriyanti dalam makalah


KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim,
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan hidayahnya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, namun penulis yakin masih banyak kesalahan dan kekeliruan dalam makalah yang kami buat ini, maka dari itu kritik dan serta saran yang
konstruktif sangat diharapkan demi sempurnanya Makalah ini.
Sholawat serta salam senantiasa kami haturkan kepada Nabi kita
Muhammad S.A.W, keluarga dan segenap sahabat-sahabatnya. Yang telah
menunjukkan kepada kita kebenaran dan mutlak yaitu dengan hadirnya Agama
Islam.
            Materi ini kami susun secara singkat, masih banyak materi yang belum dapat kami rangkum seluruhnya karena begitu luasnya materi filsafat khususnya Filsafat Yunani Kuno. Untuk itu penjelasan tersendiri hendaknya dapat ditambahkan oleh rekan-rekan atau dosen yang mengerti/mengetahui bidang study ini.











Palembang,......oktober,2010




Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ...............................................................1
DAFTAR  ISI ............................................................................2
BAB I PENDAHULUAN............................................................3
A.   Latar Belakang  Masalah
B.   Rumusan Masalah
C.   Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN.............................................................5
A.   Pengertian Filsafat  Yunani Klasik & kuno
B.   Aliran Sofisme
C.   Filsafat Yunani Klasik
D.   Pelopor  yunani klasik Socrates, Plato dan Aristotheles

BAB III PENUTUP...................................................................12
A.   Kesimpulan
B.   Saran

DAFTAR PUSTAKA.................................................................13


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Beberapa tentang kelahiran dan perkembangan Filsafat pada awal kelahiranya tidak dapat di pisahkan dengan perkembangan (Ilmu) pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban kuno (masa yunani) makna kata Filsafat sendiri adalah cinta Kearifan, arti kata tersebut belum memperhatikan makna kata yang sebenarnya dari kata Filsafat, sebab pengertian “mencintai” belum memperlihatkan keaktifan seorang Filosof untuk memperoleh Kearifan.
Pada periode yunani klasik ini perkembangan filsafat menunjukan kepesatan, yautu ditandai nya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali periode yunani klasik adalah Sofisme, kata Sophos berarti Arif atau Pandai, yaitu gelar bagi meraka yang memiliki kearifan dalam menjalani kehidupan. Keberadaan sofisme ini dengan keahliannya dalam bidang-bidang bahasa, politik, retorika, dan terutama memaparkan tentang kosmos dan kehidupan manusia di masyarakat sehingga keberadaan sofisme ini dapat membawa perubahan budaya dan peradaban di athena.  
Namun pada zaman ini, kata Sofis berkaitan dengan orang yang pandai bicara, mempengaruhi oarng dengan kepandaian berdebat. Sofis dalam gambaran yang di berikan para tokoh aliran ini terlihat jahat dan tidak memilki moral.
Antara kaum sofis dengan socrates mempunyai hubungan yang erat sekali. Disamping mereka itu hidup satu zaman, pokok permasalahan pemikiran mereka juga sama, yaitu permasalahan socrates bukan lagi jagad raya, tetapi manusia ( socrates telah memindahkan filsafat dari langit ke bumi ), sedangkan kaum sofis juga memusatkan perhatiannya kepada manusia. Bahkan Aristothales menyebutkan bahwa sesungguhnya socrates termasuk kaum sofis. Perbedaan antara kaum sofis dengan socrates adalah bahwa pemikiran filsafat socrates sebagai suatu reaksi dan kritik terhadap pemikiran kaum sofis.
Namun mereka sebenarnya memiliki jasa yang lumayan besar dalam perkembangan Filsafat. Dan ada beberapa pendapat orang terhadap aliran Sofisme yaitu ada yang menganggap bahwa aliran Sofisme sebagai aliran yang merusak dunia Filsafat.




B.  Rumusan Masalah

Setelah melihat pernyataan diatas muncul pertanyaan, yaitu :
1.    Apa dampak hadirnya Aliran sofisme dalam Filosofi yunani klasik ?
2.    Bagaimana pemikiran Filsafat yunani klasik yang di pelopori Sokrates, Plato dan Aristothales?


C.  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui dampak hadirnya Aliran Sofisme dalam Filosofi Yunani klasik.
2.    Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Filsafat yunani klasik yang dipelopori Socrates, Plato dan Aristoteles.
























BAB II PEMBAHASAN

A.  Pengertian Filsafah Yunani Klasik

 Kata Filsafat berasal dari kata yunani Filosofia, yang berasal dari kata kerja Filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata yunani Philosophis yang berasal dari kata kerja Philien yang berarti mencintai atau Philia yang berarti Cinta, dan Saphia yang berarti Kearifan, dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya di terjemahkan sebagai “Cinta Kearifan”. Filsafat adalah Ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (Al-Farabi).
Filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, Alam dan Manusia menjadi pokok penyelidikan (Rene Descartes). Filsafat merupakan induk Agama dari Ilmi-ilmu dan filsafat mengenai semua pengetahuan sebagai bidangnya (Francis Baron).
Filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan (BertrandRussel).
Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah ada semenjak zaman yunani hal-hal pokok yang telah sama. Pertanyaan-pertanyaan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita dapat mengetahuinya. Hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannya (Alfred Ayer). Filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai
perjuangan manusia secara terus menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi Manusia terhadap kecenderungan Ilmiah. Tegasnya , Filsafat sebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan (John Dewey).
Aliran yang mengawali periode yunani klasik adalah Sofisme, kata Sophos berarti Arif atau Pandai, yaitu gelar bagi meraka yang memiliki kearifan dalam menjalani kehidupan.
Dari dasar uraian di atas, maka kami menberikan suatu konsep bahwa Filsafat mempunyai pengertian yang multi-dimensi yaitu :
1.    Filsafat sebagai Ilmu,
2.    Filsafat sebagai cara berfikir,
3.    Filsafat sebagai pandangan hidup.

B.  Aliran Sofisme

Pada pertengan abad ke-5 sebelum masehi timbullah aliran baru dalam Filosofi yunani yang berlainan sekali sifatnya daripada yang dikenal sampai seketika itu. Aliran itu dinamai aliran Sofisme. Kaum Sofisme itu muncul bermula diathena dan dengan sebentar saja ajarannya berkembang keseluruh Attika, sebabnya karena mereka memaparkan soal-soalnya dan mereka memecahkan berbagai masalah hidup di tengah-tengah rakyat. Tindakan guru-guru Sofis itu membawa perubahan besar dalam sejarah peradaban grik.
Zaman Fofistik ini adalah zaman perpisahan, masa pancaroba dalam alam pikiran grik. Oleh kerena kedudukannya pada perpisahan zaman, kaum Sofis merintis jalan baru yang arahnya belum tertentu. Ajaran kaum Sofis meruntuhkan yang ada dengan tiada menimbulkan yang baru.
Sesungguhnya gerakan Sofisme penting juga bagi sejarah Filosofi. Sekalipun ia tidak memberikan keputusan tertentu dan tetap, karena tindakan kaum Sofis timbullah soal-soal yang menjadi buah pikiran yang pokok penyelidikan bagi Socrates, Plato dan Aristoteles beserta murid-muridnya kemudian. Kaum sofis membawa filosofi memandang manusia sebagai mahluk yang berpengetahuan dan berkemauan. Pengetahuan manusia dan kemauan itulah sekarang dijadikan soal filosofi.
Kaum Sofis tidak ada yang sama pendiriannya tentang suatu masalah. Mereka hanya sependuluan dalam meniadakan, dalam pendirian negatif, pokok ajarannya adalah bahwa ” kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai” ,maka tiap-tiap penduluan boleh dibenarkan.
Oleh karena Sofisme mengajar orang memandang segala-galanya sebagai sementara, ajarannya bersifat relatif. Sofisme adalah teori tentang relativisme, menyementarakan segala-galanya.
Kaum sofis menggontangkan segala sendi kebenaran sehingga orang tak tau lagi apa yang boleh dikatakan benar buat sekarang dan kemudian. Tak heran, kalu banyak kekacauan yang ditimbulkannya dalam pergaulan hidup. Protagoras salah satu tokoh terkemuka aliran ini menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia mengaggapnya demikian maka demikianlah adanya.
Sofisme bukan merupakan suatu aliran atau ajaran, tetapi lebih merupakan suatu gerakan dalam bidang intelektual yang disebabkan oleh pengaruh kepesatan minat orang terhadap filsafah.
Istilah sofis yang bersal dari kata sophistes mempunyai pengertian seorang sarjana atau cendekiawan.
Dari uraian diatas telah disebutkan bahwa timbulnya kaum sofis karena akibat dari minat orang terhadap filsafah. Akan tetapi, terdapat 3 faktor yang mendorong timbulnya kaum sofis, yaitu :
a.    Perkembangan secara pesat kota athena dalam bidang politik dan ekonomi,
b.    Kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan lagi karena desakan kaum intelektual,
c.    Pemukiman perkotaan bangsa yunani terletak di pantai, kontak dan pergaulan dengan bangsa lain tidak terlakkan lagi.

C.  Filsafat Yunani Klasik

Pada periode yunani klasik perkembangan filsafat menunjukan kepastian, yaitu ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi Socrates belum sampai kepada sesuatu sistim filosofi, yang memberikan nama klasik kepada filosofi itu. Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh plato dan aristoteles, berdasaran ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.
Plato mencapai titik persatuan dalam Filosofi grik yang selama itu menyatakan perbadaan pandangan. Dengan itu terdapat, untuk pertama kali dalam sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari satu pokok. Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu sistem Filosofi yang di dalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial. Buah pikiran dalam sistem pengetahuan Plato dan Aristoteles menguasai alam pikiran orang barat sampai kira-kira dua ribu tahun lamanya. Itulah yang memberikan nama klasik kepada Filosofi mereka.

D.  Etik yunani klasik Socrates, Plato dan Aristotheles,

Budi ialah tahu, kata Socrates inilah intisari daripada Etikanya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etikanya itulah kelanjutan daripada metode Sokrates.
Ajaran Etik Sokrates intelektual sifatnya, selain dari itu juga rasional. Menurut Socrates, Manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan selaga barang yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup Manusia. Keadaan dan tujuan Manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan Etik yang rasioal itu Socrates sampai kepada sikap hidup, yang penuh rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik dari berbuat zalim. Dalam segi pandangan Socrates yang berisi keagamaan, terdapat pengaruh paham rasionalisme. Semuanya itu menunjukkan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia sekarang Filosof yang utama seluruh masa. Seperti juga Socrates etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi pada ajarannya tentang idea.

Menurut Plato, ada dua macam budi :
1.    Budi Filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian.
2.    Budi yang biasa terbawa oleh kebiasaan orang banyak. Sikap hidup yang dipakai tidak terbit dari keyakinan, melainkan disesuaikan kepada moral orang banyak.

Ada dua jalan yang dapat ditempuh untuk melaksanakan dasar etik yaitu:
1.    melarikan diri dalampikiran dari dunia yang lahir dan hidup semata-mata dalam dunia idea.
2.    mengusahakan berlakunya idea itu dalam dunia yang lahir ini.

Kedua-dua jalan itu di tempuh oleh Plato. Tujuh etik Plato bersatu kembali pada bidang Agama, yang menekankan bahwa budi adalah tujuan untuk melaksanakan idea keadilan dalam penghidupan seseorang dalam Negara sebagai badan kolektif. Etik Aristotheles  pada dasarnya serupa dengan etik Socrates dan Plato. Tujuannya mencapai Eudaemunic, kebahagiaan sebagai “Barang yang tertinggi” dalam penghidupan. Tetapi ia memahamkannya secara realis dan sederhana. Ia tidak bertanya tentang budi dan berlakunya seperti yang di kemukakan Socrates. Ia tidak pulang menuju pengetahuan tentang idea yang di tegaskan oleh Plato. Ia menuju kepada kebaikan yang tercapai oleh Manusia yang sesuai dengan jenisnya laki-laki atau perempuan, derajatnya, kedudukannya atau pekerjaannya. Tugas daripada etik ialah mendidik kemauan manusia untuk memiliki sikap yang pantas dalam segala perbuatan. Budipikiran, seperti kebijaksanaan, kecerdasan dan pendapat yang sehat lebih diutamakan oleh Aristotheles dari budi perengai, seperti keberanian, kesederhanaan dan lain-lainnya. Keadilan dan persahabatan, menurut Aristoteles adalah Budi yang menjadi dasar hidup bersama dalam keluarga dan Negara.

E.  Tokoh-Tokoh yunani klasik

 Para sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: “All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato”. Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.
1.Filsuf- Filsuf Pertama Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.
2. Pythagoras. Filosof berikutnya adalah Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.
3. Herakletos. Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur “Pantarhei kai uden menei” yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.
4. Parmenides. Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos.
5.Filsuf Pruralis Empedokles. Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Para Filsuf berikut ini dikenal sebagai filsuf pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yang sama mengenal yang sama.
6.Filsuf Prularis Anaxagoras. Pluralis yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang membedakan antara “yang ruhani” dan “yang jasmani”.
7.Leukippos dan Demokritos. Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan kekal.
Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang manis, panas, dingin dan sebagainya, semua hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.
 
BAB III PENUTUP

A.  Kesimpulan

1.    Adanya aliran Sofisme dalam filosofi yunani dapat membawa berubahan budaya dan peradaban Athena. Aspek positif dari adanya aliran sofisme ini akan mempengaruhiterhadap kebudayaan yunani, yaitu suatu revolusi intelektual dan mengangkat manusia sebagai objek pemikiaran Filsafat, gerakan aliarn sofisme juga penting bagi sejarah filosofi karena aliarn sofisme telah memajukan pandangan baru.
2.    Sokrates , Plato dan Aristoteles pada dasarnya mempunyai pandangan etik yang sama. Pandangan etik Sokrates dan Plato bersifat intelektual dan rasional. Sedangkan pandangan etik Aristoteles bersifat realis dan sederhana.

B.  Saran

Tujuan hidup tidaklah mencapai kebaikan untuk kebaikan melainkan merasa kebahagiaan. Tujuan kita nukan mengetahui, melainkan berbuat, bukan unuk mengehaui apa budi itu. Melainkan supaya kita menjadi oarng yang berbudi manusia tidak selamanya tepat pertimbangannya, adil sikapnya kadang-kadang manusia berbuat yang tidak masuk akal. Oleh sebab itu manusia perlu sekali tahu menguasai diri, manusia yang tahu menguasai diri hidup sebagaimana mestinya tidak terombang ambing oleh hawa nafsu.




DAFTAR  PUSTAKA

            Achmadi Asmoro, Filsafat Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008).

            www.google.com//filsafah yunani klasik.kawasan Palembang.21-10-2011.

            Soemargono Soejono, berfikir secara kefilsafatan (Yogyakarta:Nur Cahaya,1984).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar